Berkurban dengan Kue Serabi berbuah Haji

oleh: H. Ahmad Shonhaji, Deputi Direktur Zakat dan Wakaf Dompet Dhuafa Republika

Tiap pagi dia tekun meniupi kayu bakar di pinggir jalan untuk mematangkan kue serabinya. Keping demi keping rupiah dia petik penuh kesabaran, dikumpulkannya dalam kantong kain yang begitu lusuh. Selama puluhan tahun dalam kesendiriannya, wanita itu menekuni jajanan rakyat tersebut sekadar untuk menyambung hidup. Si Embok begitu orang menyebutnya.

Dari penghasilannya yang sangat sedikit tersebut, dia masih menyisihkan sebagiannya untuk berinfak manakala dia hadir di Majlis Ta’lim. Keluguan dan sikap santunnya membuat dia dicintai banyak orang. Kala menjelang Idul Adha namanya selalu tercantum sebagai salah satu penerima bingkisan.

Suatu kala, saat dia menerima daging kurban, airmatanya berlinang membasahi pipinya yang keriput. “Ya Allah, kendaraan apa yang akan aku pakai nanti di Padang Mahsyar jika aku hanya terus menerus menerima daging kurban sepanjang tahun?”  begitulah tangisnya dalam hati. Setiap kali melihat hewan kurban saat Lebaran Haji hatinya menangis, seraya berharap dalam doa: “Ya Allah, kapan aku bisa berkurban..?”

Akhir Ramadhan 2004, Si Embok tergesa-gesa membawa kantong serabinya ke rumah Bu Haji, tetangganya. Belum sempat dia disuruh duduk oleh tuan rumah, dengan cepat si Embok menukas, “Bu Haji, tahun ini saya ingin berkurban, supaya di Padang Mahsyar nanti saya punya kendaraan. Saya malu hanya menerima kurban terus menerus…”

Sambil menangis tersedu-sedu Si Embok membuka kantongnya yang lusuh itu. “Bu Haji, selama bertahun-tahun uang hasil dagang serabi saya kumpulkan agar saya bisa berkurban. Saya khawatir, saya tidak ada umur dan saya belum kurban. Ini ada Rp 700.000,- saya titip uang ini sama Bu Haji untuk kurban, agar saya juga bisa memberi…”

Allahu Akbar walillaahilhamdu. Tak sanggup Bu Haji membendung airmatanya saat uang kertas yang sudah lusuh dan uang receh itu dikeluarkan oleh Si Embok dengan sangat hati-hati dari kantong kumalnya. Bu Haji langsung terbayang wajah almarhum ibunya yang sudah meninggal saat dia masih kecil. “Ya Allah, kenapa Kau hadirkan wajah ibuku saat aku melihat si Embok.” Bu Haji berkata dalam hati.

Dipeluknya si Embok dengan hangat dan penuh kelembutan. Betapa Allah telah menghadirkan orang mulia dihadapan Bu Haji.

Kebetulan Bu Haji akan berangkat haji Ongkos Naik Haji (ONH) Plus untuk ketiga kalinya. Ketika itu juga Bu Haji mantap berjanji dalam hati; “Ya Allah, Engkau telah menghadirkan mahram untukku. Bismillah, akan aku hajikan si Embok ini pergi bersamaku tahun ini.” Dan Bu Haji pun menepati janjinya tersebut.

Subhanallah. Serabi kurban si Embok itu dibayar haji! Rindu si Embok terjawab. Dia syahid saat wukuf di Padang Arafah.

“Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran : 31)

Setiap orang berusaha meraih cintanya dengan melakukan muraqabah, seperti yang dilakukan si Embok untuk meraih cinta dari Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Implementasi amal saleh menjadi pancaran betapa indahnya dekat dengan Allah.

Keikhlasan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail Alaihiwassalam memantik banyak Ibra atau pembebasan atas tanggung jawab dari sebuah tanggungan bagi kaum muslimin. Megahnya bangunan Ka’bah dan syariat kurban menjadi bukti nyata kesalehan.

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”     (QS.Al maidah :9)

Wallahualam bishshawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s